Kenapa dalam ekonomi yang morat-marit sekarang kita menemukan berbagai keganjilan? Barangkali itulah yang mencoba diungkapkan Levitt and Stephen J, dalam bukunya ''Freakonomics.'' Apa pula itu? Freakonomics mengungkap tabir ekonomi aktual yang didasarkan pada pengetahuan apa adanya, menerangkan bagaimana kegiatan ekonomi berjalan, berproses dan terjadi (what is) bukan pada normative-economics yang mengandalkan asumsi tertentu, seolah-olah semuanya berjalan baik sesuai rencana (what should be).


Freakonomics mencoba mengungkap kompleksitas ekonomi secara mendalam, terbuka, dan transparan. Dalam freakonomics dianalisa secara mendalam, (1) apa yang tampak di atas permukaan, (2) di permukaan, dan (3) di bawah permukaan atas setiap upaya yang dilakukan individu maupun organisasi formal, dalam lingkup behaviors, smart or bad habits dan aneka hidden steams, dalam lingkup tujuan ekonomi.

Suatu fakta ekonomi bisa dilihat dalam tiga sudut pandangan, disimak satu dengan yang lain di mana dapat saling sejalan, saling memperkuat dalam lingkup pareto optimum, tetapi bisa juga yang tidak sejalan sama sekali atau saling meniadakan (zero sum game). Sehingga freakonomics lebih melihat pada lingkup uraian yang menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, temasuk aneka kesenjangan yang ada.

Berikut beberapa contoh.
Utang Luar Negari. Pada tataran ground economy, penerima utang diharuskan membeli barang dan jasa tertentu dari negara donor. Pada upperground economy disebut sebagai pendapatan pembangunan. Pada underground economy, dana bisa dipakai untuk menghapus kemiskinan bila kita bisa mendapat penghapusan utang tetapi juga menjerat.

Analisis tentang TKI. Upperground economy TKI memberikan devisa. Dalam ground economy, bisa memberikan kesempatan kerja ke luar negeri dan pada saat yang sama bisa menjadi obyek pajak penghasilan, peningkatan pendapatan, peningkatan tabungan. Sedangkan pada underground economy menimbulkan potensi kehilangan pekerjaan yang andal untuk pembangunan bangsa, dampaknya daerah kehilangan tenaga produktif, di sektor pertanian dan UKM, ada kesempatan dalam negeri yang hilang. Belum lagi munculnya social cost dari penderitaan TKI yang bertambah pelik.

Warteg di sekitar kampus. Upperground economy ini dianggap memberikan pemandangan kurang sedap dan menambah biaya untuk melakukan pembersihan. Pada ground economy, dapat menawarkan alternatif makanan yang murah sehingga bisa menghemat, tercipta saving economy. Sedangkan pada underground economy, (i) warteg bisa memberikan kenaikan pendapatan retribusi dan pungli, (ii) kesempatan kerja (iii) tempat latihan supaya dapat berusaha dengan andal di kemudian hari.

Freakonomics dalam melihat globalisasi. Pada level upperground, globalisasi menciptakan kebijakan the law of one price, bahwa harga suatu produk atau jasa adalah sama di semua negara. Ground economy, melihat the law of one price, memperluas pasar ke arah perfect competition. Sedangkan underground economy, pintu masuk menuju ke suatu tahapan selanjutnya dari tipu daya dalam skala usaha yang lebih luas. Apakah kebijakan ini dapat diterima di semua negara? Bagaimana dengan tindakan proteksi yang dilakukan oleh Jepang untuk melindungi para petaninya sehingga harga singkong di Jepang sama dengan 50 kali harga singkong di Cikampek?
Ekonom J. Stiglitz menyindir IMF bukanlah kepanjangan International Monetary Fund, melainkan International Monetary Fraud. John Perkins, penulis buku ''Confessions of an Economic Hit Man'' mengungkapkan adanya hidden mekanisme yang mengontrol secara sistematis di balik kejadian besar yang terjadi di dunia. Bahwa iming-iming pinjaman merupakan usaha yang tendensinya membuat negara- dunia ketiga terjerat dalam utang besar yang kronis. Ketidakmampuan untuk melunasi pinjaman (default) bisa ditilik sebagai hidden agenda untuk dapat menguasai perekonomian dan kedaulatan negara peminjam.

Menurut A Larry Elliot & Richard J Schroth, dalam buku ''How Companies Lie'', tersingkapnya skandal akuntansi perusahaan papan atas di AS seperti Enron, Tyco Sunbeam, Global Crossings, Waste Management and WorldCom. Ini menyadarkan kita akan dramatisnya praktik underground yang merugikan semua. Hal ini terjadi karena perusahaan besar memiki infrasturktur global yang membuatnya dapat bergerak bebas melintasi batas negara dan memanfaatkan kelemahan hukum di negara yang dihinggapinya.
Beberapa ekonom AS menyakini skandal tersebut hanya merupakan puncak dari gunung es di dasar laut. Masih banyak perusahaan kini dan di masa mendatang yang potensial mempunyai tabiat serupa belum terungkap. Levitt and Stephen J menyatakan Freakonomics berusaha menunjukkan bahwa ekonomi suatu ilmu yang mempelajari tentang hal berikut ini: Insentif -- ciri budaya modern -- tentang bagaimana orang mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan pada saat orang lain mempunyai keinginan yang sama, misalnya : mengubah kebiasaan berkelahi menjadi pertandingan tinju yang menghasilkan prestasi dan uang, mengubah budaya komunikasi verbal menjadi budaya on-line.

Kearifan konvensional seringkali kurang didasari pada konteks yang ada. AS selama ini dikenal sebagai negara yang paling gigih memperjuangakan HAM yang merupakan hak individu yang diperoleh sejak ia masih berada di dalam kandungan. Namun sekarang ini bagaimana menerangkan tentang image yang telah tercipta dengan realitas yang ada, di mana angka aborsi di AS sangat tinggi, mencapai 1,6 juta kasus pertahun, di negara yang berpenduduk sekitar 225 juta.

Menilik kejadian globalisasi versus lokalisasi, freakonomoics dianggap menggubris hal yang aneh dari keganjilan tertentu secara gambalang dan terbuka, berupaya untuk menunculkan kearifan dalam menata manajemen yang tegas, pantas dan berdayaguna. Freakonomics mencoba menguak tantangan tentang bagaimana menata upperground economy, ground economy, underground economy, secara baik dan pantas. Berkaitan dengan itu semua, maka bisa dipertanyakan: cara manajemen ekonomi yang bagaimana yang akan kita pakai dalam skema freakonomics?.

Freakonomics bagaikan arus air mengalir di laut dimana arus di atas permukaan berbeda dengan arus di bawah permukaan dan ini membuat perilaku ombak menarik untuk disimak. Bagaimana pemerintah kita menyikapi ini? Mengapa ekonomi syariah yang dikenal lebih adil, transparan dan menyayomi semua belum juga menjadi skim pengembangan ekonomi kita?.

Thoby Mutis, Universitas Trisakti
Republika Online 2005-10-31

Kategori:
0 Responses

Poskan Komentar